Pekat malam
Beberapa hari belakangan ini malamku tidak seperti biasanya. Kejam. Menakutkan.
Padahal dulu kataku "aku benci keramain. Itu menganggu. Malam-malam yang sunyi dan hitam pekatnya kopi adalah bagian dari kenikmatan yang tak ada duanya."
Karena bagian dari kesendianku adalah kesunyian yang kupakai untuk melamun tentangmu, Tentang kisah kita dan tentang bagaimana Aku menua denganmu.
Hingga akhirnya malam itu langitku gelap. Bulan bintang meninggalkannya. Tepat seperti hatiku yang ditinggalkan oleh hatimu.
Aku mendapati kekosongan disana. Hitam pekatnya kenyataan mengalahkan pahitnya kopiku.
Langitku menangis. Kumencoba mengatakan "ah aku kuat."
Kupejamkan mataku perlahan. Kunikmati rintiknya.
Lalu semesta memaksaku mengingatmu.
Mengingat langkahmu yang bukan kearah kulagi.
Mengingat cintamu yang bukan untukku lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar